Wednesday, February 1, 2017

SIRUP BUAH NAGA WITH HONEY



ABSTRAK

Anggrian, Willie dan Rahayu Wiliandri. 2015. Sirup Buah Naga with Honey Sebagai Upaya Peningkatan Ekonomi Daerah. Makalah TTG, Kabupaten Tulang Bawang.

Kata kunci: Sirup, Buah Naga,  Madu, Ekonomi Daerah

Sirup biasanya berbahan dasar buah yang menyegarkan dengan banyak jenis varian rasa. Bukan tidak mungkin buah naga yang berlimpah tersebut dapat dijadikan sirup buah yang menyegarkan sehingga dapat meningkatkan daya jual buah naga tersebut dengan demikian dapat menstabilkan harga buah naga dipasaran. Tujuan dan manfaat dari penelitian ini adalah memanfaatkan buah naga sebagai sirup meningkatkan nilai gizi sirup buah naga dengan madu, meningkatkan nilai ekonomi buah naga dalam bentuk produk olahan berupa sirup.
Buah naga dengan segala keunggulannya kami coba kombinasikan dengan madu yang kaya akan khasiatnya untuk dijadikan sirup. Sirup adalah cairan yang kental dan memiliki kadar gula terlarut yang tinggi, namun hampir tidak memiliki kecenderungan untuk mengendapkan kristal. Olahan buah naga menjadi sirup ini diharapkan mampu meningkatkan daya jual buah naga tersebut. Apalagi dikombinasikan dengan madu yang sudah tidak diragukan lagi manfaatnya bagi tubuh manusia.
Berdasarkan hasil penelitian yang sudah kami lakukan maka dapat disimpulkan bahwa buah naga dapat diolah menjadi sirup dengan melakukan pengepresan daging buah dan pemekatan dengan pemanasan, sirup buah naga dengan kombinasi madu dapat menghasilkan kandungan gizi yang lebih kaya dan bermanfaat bagi kesehatan manusia, upaya peningkatan nilai ekonomi buah naga dapat dilakukan dengan pengolahan buah naga menjadi sirup dengan kombinasi madu.

 

Saturday, January 14, 2017

CARA PENANGGULANGAN BENCANA TSUNAMI

Seperti halnya gempa bumi, tsunami merupakan gejala alam yang tidak dapat diprediksi kapan terjadinya. Namun demikian, ada cara-cara yang harus dilakukan untuk penanggulangan terhadap bencana tsunami, yang bertujuan untuk mengurangi risiko bahaya tsunami.

a. Sebelum terjadinya tsunami
  1. Mengetahui persis berapa meter ketinggian daerah yang kita tempati dari permukaan laut dan juga mengetahui persis berapa meter jaraknya terhadap pantai. Hal tersebut penting dilakukan agar perlu tidaknya mengungsi (evakuasi) jika sewaktu-waktu bencana tsunami datang.
  2. Mengetahui rute untuk melarikan diri ke tempat yang tinggi, seperti bukit. Hal tersebut diperlukan sebelum adanya peringatan tsunami dari pemerintah.
b. Saat terjadi tsunami
  1. Jika sedang berada di pantai atau laut, segera berlari sekuat-kuatnya ke tempat yang lebih tinggi. Jika memungkinkan sampai pada ketinggian 30 meter di atas permukaan laut atau 3 Km dari garis pantai. Usahakan dapat ditempuh ke lokasi yang aman dalam 15 menit.
  2. Ikuti rute evakuasi ke tempat yang telah disediakan oleh pemerintah sebagai tempat yang aman atau menuju posko bencana tsunami.
  3. Jika tidak memungkinkan, cari bangunan bertingkat yang bertulang baja. Gunakan tangga darurat untuk sampai ke lantai yang paling atas, sidikitnya sampai lantai 3.
  4. Jika situasi memungkinkan, gunakan jaket/jas hujan dan pastikan tangan bebas tidak memegang apa pun.
  5. Jangan beranjak dari tempat yang aman karena tsunami merupakan rangkaian gelombang yang dapat muncul sekitar 5 menit - 1 jam kemudian.
  6. Jangan beranggapan karena memiliki risiko minimal terkena dampak tsunami di suatu tempat berarti sama di emua tempat.
c. Setelah terjadi tsunami
  1. Nyalakan dan dengarkan informasi dari radio mengenai penjelasan dari pemerintah ataupun cari tahu mengenai informasi yang dapat dipercaya, seperti press release dari Badan Meteorologi dan Geofisika. 
  2. Periksa keadaan diri Anda dan orang di sekeliling Anda. Jika ada yang terluka, berikan pertolongan pertama yang dapat dilakukan,
  3. Berikan bantuan khusus terhadap orang-orang yang lemah, seperti anak-anak, orang tua, dan wanita.
  4. Jauhi bangunan-bangunan jika air masih menggenang.
  5. Saat ingin memeriksa keadaan rumah atau pun bangunan tertentu, gunakan perlindungan ekstra dan sangat berhati-hati.
  6. Bukakan pintu dan jendela agar rumah atau bangunan cepat kering.
  7. Periksa persediaan makanan. Makanan yang kontak dengan air laut mungkin telah tercemar dan sebaiknya dibuang.
Sumber:
Pujiningsih, Nining dkk. 2007. Ilmu Pengetahuan Alam untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Arya Duta.

Baca Juga:
Gelombang Tsunami
Ciri-Ciri Gelombang Tsunami
Mekanisme Terjadinya Tsunami
Cara Penanggulangan Gempa Bumi  


MEKANISME TERJADINYA GELOMBANG TSUNAMI

Gempa bumi seringkali merupakan penyebab utama tsumai, diperkirakan sebanyak 90% tsunami terjadi akibat gempa bumi di bawah laut. Namun demikian, ada juga tsunami yang disebabkan oleh letusan gunung api di laut, seperti meletusnya Gunung Krakatau di Selat Sunda. Longsoran tanah di dasar laut dapat juga menghasilkan tsunami. Jika ukuran meteor atau longsoran ini cukup besar, dapat mengakibatkan mega tsunami yang tingginya mencapai ratusan meter dan dapat menenggelamkan beberapa pulau.

Gelombang tsunami terjadi saat energi vertikal dari gempa bumi mengguncang dasar laut sampai beberapa meter dan mengakibatkan keseimbangan air yang berada di atasnya terganggu. Gangguan keseimbangan tersebut memicu aliran energi air laut sampai beberapa ratus kilometer kubik air. Gelombang besar tersebut, bergerak ke lautan dan menjauh dari episenter (pusat gempa). Saat memasuki perairan dangkal, kecepatan gelombang tsunami melambat tetapi tinggi gelombangnya bertambah seperti dinding air, yang bersifat merusak dan mengancam kehidupan.

Gelombang tsunami bukan gelombang besar tunggal tetapi merupakan suatu rangkaian gelombang. Gelombang tsunami yang pertama tidak begitu membahayakan karena biasanya bukan yang terbesar. Jika gempa bumi besar terjadi, gelombang tsunami dapat menjangkau pantai dalam beberapa menit walaupun sebelumnya telah ada peringatan akan terjadi tsunami.

Gelombang tsunami dapat terjadi jika:
a. Energi vertikal dari gempa bumi mempunyai gaya yang cukup untuk mengguncang dasar laut sehingga mengalami pergerakan naik turun.
b. Dasar laut yang mengalami pergerakan naik turun mencakup daerah yang lua, sehingga dapat menciptakan aliran energi air yang besar.

Daerah yang memiliki risiko paling tinggi terkena dampak tsunami adalah yang berjarak kurang dari 7 m di atas permukaan laut dan 1,6 Km dari garis pantai. Tenggelam seringkali menjadi penyebab utama kematian karena tsunami. Bahaya yang sering kali menjadi pengiring bencana tsunami, antara lain banjir, pencemaran air minum, kebakaran karena bocornya pipa gas, dan rusaknya infrastruktur umum seperti jalan, jembatan, fasilitas medis, kabel saluran telepon dan listrik terganggu, bangunan-bangunan hancur dan lain-lain.


Sumber:
Pujiningsih, Nining dkk. 2007. Ilmu Pengetahuan Alam untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Arya Duta.

Sumber Gambar:
http://taganabanten-info.blogspot.co.id/2009/11/mekanisme-tsunami.html

Baca Juga:
Gelombang Tsunami
Ciri-Ciri Gelombang Tsunami
Cara Penanggulangan Bencana Tsunami
Cara Penanggulangan Gempa Bumi