Monday, April 5, 2010

MICRO TEACHING


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tugas dan tanggung jawab guru khususnya dalam pengajaran perlu diperhatikan dengan serius. Ia memerlukan kemampuan profesionalitas. Pengetahuan, sikap, dan skill yang telah diperoleh melalui program pendidikan keguruan maupun re service training perlu dikembangkan melalui pengalaman mengajar di sekolah atas bimbingan Kepala Sekolah.
Mengajar di kelas dengan peserta didik ± 40 orang dalam alokasi waktu 40 menit Satu pertemuan merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Hal ini memerlukan latihan praktek di kelas. Bagi calon guru akan dirasakan lebih rumit lagi dan sulit. Sebab, dalam latihan praktek mengajar ”for the students teacher has a two fold intention, that is pupils learn while he learn to teach (Brown, 1975), sehingga dalam latihan praktek mengajar yang langsung di kelas yang demikian kondisi yang dihadapinya itu, maka perhatian calon guru dalam mengajar terutama akan tertuju pada “his pupils learn” dan akan terabaikanlah tujuan utamanya “he learn to teach”. Bahkan jika praktikan mengalami kekeliruan mengajar akan berakibat langsung pada sekian banyak peserta didik. Ini merupakan satu kelemahan mendasar sifatnya, disamping masih terdapat kelemahan lainnya.
Untuk mengatasi kelemahan yang mendasar tersebut dikembangkanlah pengajaran (Micro Teaching) dalam kerangka pendidikan guru berdasarkan kompetensi (PGBK). Sebenarnya, pengajaran mikro sebagai salah satu bagian dari program pengalaman kerja lapangan (PPL) untuk menunjang PGBK itu.
Tahun 1971 pengajaran mikro mulai dikembangkan di negara-negara Asia terutama Malaysia, Philipina, dan kemudian Indonesia. Hal ini didasarkan pada suatu rekomendasi ”The Second Sub-Regional Workshop on Teacher Education”.
Kegiatan pendidikan bukanlah sekedar gejala sosial yang bersifat rasional semata mengingat kita mengharapkan pendidikan yang terbaik untuk bangsa Indonesia. Ilmu pendidikan secara umum tidak begitu maju dibandingkan ilmu-ilmu sosial dan biologi tetapi tidak berarti bahwa ilmu pendidikan sekedar study terapan berdasarkan hasil yang dicapai oleh ilmu-ilmu sosial.
1.2 Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah:
a. Untuk mengetahui pengertian pengajaran mikro.
b. Untuk mengetahui komponen ketrampilan mengajar yang berkaitan dengan pengajaran mikro.
c. Untuk mengetahui langkah-langkah pengajaran mikro.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pengajaran Mikro
Mc. Knight (1971) memberikan pengertian tentang pengajaran mikro sebagai berikut :
” . . . a scaled down teaching encounter designed to develop new skills and refine old ones.”
Calon guru atau guru yang sedang berlatih itu mengajar sejumlah kecil peserta didik, ± 10 – 15 menit, yang kadang-kadang direkam dengan video – tape recorder (VTR) untuk diobservasi dan dianalisis oleh yang berlatih bersama-sama dengan supervisor. (Brown, 1975).
Kemudian MC. Langhlin dan Moulton (1975) berpendapat : “Micro teaching is as performance trainging method designed to isolate the component parts of the teaching process, so that the trainee can master each component one by one in a simplified teaching situation.”
Mendasarkan pada dua pengertian di atas dapat dipahami bahwa, pengajaran micro itu tetap sebagai ”real teaching” (Allen and Ryan, 1969) tetapi dalam bentuk mikro sehingga mudah di kontrol. Bentuk mikro ini mencakup hamper semua komponen dalam (interaksi) pengajaran, yaitu :
  • Jumlah peserta didik : 5 – 10 orang
  • Waktu : 10 – 15 menit
  • Bahan pengajaran : terbatas sederhana
  • Ketrampilan : terisolasi/difokuskan pada ketrampilan mengajar
tertentu
2.2 Komponen Ketrampilan Mengajar
Macam-macam ketrampilan mengajar yang berkaitan dengan praktek pengajaran mikro, menurut Allen and Ryan (1969) dalam bukunya ”Micro Teaching” ada 14 (komponen-komponen ketrampilan mengajar) :
  1. Stimulus Variation
  2. Set Induction
  3. Closure
  4. Silence and Non Verbal Cues
  5. Reinforcement of Student Partisipation
  6. Fluency in asking Question
  7. Probing Questions
  8. Higher Order Questions
  9. Divergent Questions
  10. Recognizing Attending Behavior
  11. Illustrating and Use of Example
  12. Lecturing
  13. Planed Repetition
  14. Completeness of Communication
Menurut Bahan Penataran Wawasan Kependidikan Guru Agama Islam SMTP/SMTA 1985 yang diterbitkan Depdikbud RI, dijelaskan setidaknya ada 9 komponen ketrampilan mengajar yang dapat di observasi dalam pengajaran mikro :
  1. Bertanya Dasar
  2. Bertanya Lanjutan
  3. Memberi Penguatan
  4. Mengadakan Variasi Mengajar
  5. Menjelaskan Pelajaran
  6. Membuka dan Menutup Pelajaran
  7. Mengelola Kelas
  8. Membimbing Diskusi Kecil
  9. Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
A. Komponen-komponen Keterampilan Bertanya Dasar
Pemahaman komponen serta penguasaan penggunaan oleh guru merupakan faktor penting dalam usaha pencapaian tujuan penggunaan pertanyaan dalam kelas. Komponen-komponen tersebut meliputi:
a) Pengungkapan Pertanyaan Secara Jelas dan Singkat
Agar siswa dapat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru, maka pertanyaan yang diberikan harus jelas dan singkat, serta penyusunan kata-kata dalam pertanyaan pun harus disesuaikan dengan usia dan tingkat perkembangan siswa.
b) Pemberian Acuan
Pemberian acuan yang berupa pertanyaan yang berisi informasi yang relevan dengan jawaban yang diharapkan dari siswa. Dengan memberikan acuan memungkinkan siswa memakai serta mengolah informasi untuk menemukan jawaban dari pertanyaan dan tetap mengarahkan siswa untuk tetap fokus pada pokok bahasan yang sedang dibicarakan.
c) Pemusatan
Berdasarkan batas lingkupnya, pertanyaan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: pertanyaan luas dan pertanyaan sempit. Penggunaannya pun tergantung pada tujuan pertanyaan dan pokok dalam diskusi yang hendak ditanyakan.
d) Pemindahan Giliran
Pertanyaan yang diberikan oleh guru tidak harus dijawab oleh seorang siswa. Misal : mula-mula guru mengajukan pertanyaan kepada siswa seluruh kelas, kemudian memilih beberapa siswa untuk menjawab dengan cara menyebut nama siswa atau menunjuk siswa.
e) Penyebaran
Pemberian pertanyaan secara acak oleh guru, diharapkan agar setiap siswa mendapat giliran untuk menjawab pertanyaan yang diberikan. Pada penyebaran, beberapa pertanyaan yang berbeda disebarkan giliran untuk menjawab kepada siswa yang berbeda pula.
f) Pemberian Waktu Berpikir
Setelah memberikan pertanyaan, guru perlu memberikan waktu beberapa detik untuk berfikir. Teknik memberikan waktu berfikir ini sangat perlu agar siswa mendapat kesempatan untuk menemukan dan menyusun jawaban.
g) Pemberian Tuntunan
Bila seorang siswa memberikan jawaban yang salah tau tidak dapat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru, hendaknya guru memberikan tuntunan kepada siswa agar dapat menemukan jawaban yang benar.
Pemberian tuntunan dapat dilakukan dengan cara :
- mengungkapkan sekali lagi pertanyaan
- mengajukan pertanyaan lain yang lebih sederhana
- mengulangi penjelasan-penjelasan sebelumnya yang berhubungan dengan pertanyaan.
B. Bertanya Lanjutan
a) Pengubahan tuntutan tingkat kognitif dalam menjawab pertanyaan
Pertanyaan yang diberikan guru dapat mengundang proses mental yang berbeda, ada yang menuntut proses mental yang rendah dan ada pula yang menuntut proses mental yang lebih tinggi. Oleh karena itu, pertanyaan yang diberikan oleh guru hendaknya dapat mengubah tuntutan tingkat kognitif dalam menjawab pertanyaan. Tingkat kognitif yang lebih tinggi seperti pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.
bKesimpulan
Pengaturan urutan pertanyaan diberikan bertujuan untuk mengembangkan tingkat kognitif dari sifatnya lebih rendah ke yang lebih tinggi dan kompleks. Misal: pertama guru memberikan pertanyaan pemahaman, setelah itu pertanyaan penerapan, analisis, sintesis, dan diakhiri dengan evaluasi.
c) Menggunakan Pertanyaan Pelacak
Jika jawaban yang diberikan siswa dianggap benar oleh guru, tetapi masih dapat ditingkatkan menjadi lebih sempurna, maka guru dapat mengajukan pertanyaan pelacak, dengan teknik-teknik sebagai berikut:
1. Klarifikasi
2. Meminta siswa memberikan alasan
3. Meminta kesepakatan pandangan
4. Meminta ketepatan jawaban
5. Meminta jawaban yang lebih relevan
6. Meminta contoh
7. Meminta jawaban yang lebih kompleks.
d) Peningkatan Terjadinya Interaksi
Agar siswa lebih terlibat secara pribadi dan ;ebih bertanggung jawab atas kemajuan dan hasil diskusi, guru hendaknya mengurangi atau menghilangkan perannya sebagai penanya sentral. Untuk itu ada dua cara yang dapat ditempuh. Cara pertama, guru mencegah pertanyaannya dijawab oleh seorang siswa, tetapi siswa-siswa diberi kesempatan singkat untuk mendiskusikan jawabannya bersama teman terdekatnya. Cara kedua, jika siswa mengajukan pertanyaan, guru itu tidak segera menjawab pertanyaan tersebut, tetapi melontarkan kembali pertanyaan tersebut kepada siswa untuk didiskusikan.
C. Memberi Penguatan
Keterampilan memberikan penguatan terdiri dari beberapa komponen yang perlu dipahami dan dikuasai, antara lain:
a) Penguatan verbal
Penguatan verbal yaitu komentar yang berupa kata-kata pujian, dukungan, pengakuan, dorongan yang dipergunakan untuk menguatkan tingkah laku dan penampilan siswa.
b) Penguatan non-verbal
Ø Penguatan berupa mimik dan gerakan badan
Penguatan ini berupa mimik dan gerakan-gerakan badan seperti senyuman, anggukan, acungan ibu jari dan tepukan tangan.
Ø Penguatan dengan cara mendekati
Yaitu berupa mendekatnya guru kepada siswa untuk menyatakan perhatian dan kesenangannya terhadap pekerjaannya, tingkah laku atau penampilan siswa.
Ø Penguatan dengan sentuhan
Penguatan yang demikian dapat berupa menepuk-nepuk bahu, atau pundak siswa, menjabat tangan siswa, atau mengangkat tangan siswa yang menang pertandingan.
Ø Penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan
Yaitu dengan memberikan tugas-tugas atau kegiatan-kegiatan yang disenangi siswa.
Ø Penguatan berupa simbol atau benda
Penguatan jenis ini dapat berupa komentar tertulis pada buku siswa, kartu bergambar, bintang plastik, lencana.
Ø Penguatan tak penuh
D. Komponen-komponen Keterampilan Mengadakan Variasi
a) Variasi dalam gaya mengajar guru
Setiap guru, dalam mengajar tentu memiliki variasi yang berbeda-beda seperti :
- Penggunaan variasi suara, yaitu perubahan nada suara dari keras menjadi lemah, dari tinggi menjadi rendah, atau yang lainnya.
- Pemusatan perhatian, yaitu dengan ucapan-ucapan yang menekan agar siswa dapat berfokus pada materi yang sedang dipelajari. Cara ini biasanya diikuti dengan menunjukkan gambar pada papan tulis atau dinding.
- Kesenyapan, artinya perubahan keadaan atau situasi pada saat guru sedang menerangkan sesuatu.
- Mengadakan kontakpandang, artinya pada saat guru menerangkan, hendaknya pandangan guru harus menjelajahi seluruh kelas. Sehingga interaksi antara guru dan siswa dapat berlangsung.
- Gerakan badan dan mimik.
- Pergantian posisi guru dalam kelas.
b) Variasi dalam penggunaan media dan bahan pengajaran
Media dan alat pengajaran, bila ditinjau dari indera yang digunakan dapat digolongkan menjadi tiga yaitu yang dapat didengar, yang dapat dilihat, dan yang dapat diraba, dibau (dicium) atau dimanipulasi.
Pertukaran penggunaan dari jenis yang satu ke jenis yang lain atau dari bermacam alat/bahan dalam komponen mengharuskan anak menyesuaikan alat inderanya sehingga lebih dapat mempertinggi tingkat perhatian siswa. Karena besar kemungkinan tiap anak mempunyai kemampuan berbeda dalam menggunakan alat inderanya untuk belajar, maka pendekatan multi indera ini akan dapat memenuhi selera anak yang berbeda tersebut.
Bahan dan alat yang baru juga dapat menambah rasa ingin tahu siswa. Yang amat penting lagi adalah bahwa alat media dan bahan yang kaya dan beragam serta relevan dngan tujuan pengajaran dapat merangsang pikiran dan hasil belajar yang bermakna dan lebih bertahan lama sebagai berikut.
v Variasi alat/yang dapat dilihat
v Variasi alat/bahan yang dapat didengar
v Variasi alat/bahan yang dapat diraba dan dimanipulasi
v Variasi pola interaksi dan kegiatan siswa
E. Menjelaskan Pelajaran (Penyajian Bahan)
Komponen keterampilan menjelaskan terbagi dua, yaitu :
v Menganalisis dan merencanakan.
v Menyajikan
  1. Merencanakan
a. Yang berhubungan dengan isi pesan (materi) hal ini mencakup :
1.a.1. Menganalisis secara keseluruhan. Hal ini termasuk mengidentifikasi unsur apa yang akan dihubungkan (dikaitkan) dalam penjelasan itu.
1.a.2. Menentukan jenis hubungan yang ada antara unsur-unsur yang dikaitkan itu misalnya unsur yang satu berbeda atau bertentangan dengan yang lain. Contoh : kecepatan angin yang berbeda pada bagian atas dan bawah sayap pesawat terbang menyebabkan pesawat dapat terangkat naik.
1.a.3. Menggunakan hukum, rumus atau generalisasi yang sesuai dengan hubungan yang telah ditentukan.
b. Yang berhubungan dengan penerima pesan (siswa)
Merencanakan suatu penjelasan harus mempertimbangkan penerima pesan, yaitu kepada siapa penjelasan itu disajikan agar memahami dengan baik, serta kesiapan sipenerima, sehubungan dengan itu ada 3 pertanyaan yang harus membimbing seseorang untuk merencanakan suatu penjelasan.
1.b.1. Apakah penjelasan itu cukup relevan dengan pertanyaan yang diajukan siswa atau dengan situasi yang kelihatannya membingungkan mereka.
1.b.2. Apakah penjelasan itu memadai yakni mudah diserap siswa melalui apa yang telah diketahui.
1.b.3. Apakah penjelasan itu cocok dengan khazanah pengetahuan anak pada waktu itu.
  1. Menyajikan suatu penjelasan
Penjelasan atau penyajian dapat ditingkatkan hasilnya dengan memperhatika komponen :
· Kejelasan
· Penggunaan ilustrasi dan contoh
· Pemberian tekanan
· Balikan
F. Membuka dan Menutup Pelajaran
1. Membuka Pelajaran
Pada awal pelajaran guru harus melakukan kegiatan membuka pelajaran. Komponen keterampilan membuka pelajaran meliputi : menarik perhatian siswa, menimbulkan motivasi, memberi acuan dan membuat kaitan. Komponen-komponen dan aspek-aspek itu adalah :
a. Menarik perhatian siswa
- Gaya mengajar guru
- Menggunakan alat-alat bantu mengajar
- Pola interaksi yang bervariasi
b. Menimbulkan motivasi
Salah satu tujuan dari prosedur membuka pelajaran adalah memilih secara hati-hati hal yang menjadi perhatian siswa hingga akan menimbulkan motivasi dengan adanya motivasi itu proses belajar mengajar menjadi dipermudah. Ada 4 cara untuk menimbulkan motivasi
c. Memberi acuan (structuring)
Usaha untuk dapat dilakukan guru adalah:
c.1. Mengemukakan tujuan dan batas-batas tugas
Guru hendaknya terlebih dahulu mengemukakan tujuan pelajaran dan batas-batas tugas yang hendak dikerjakan oleh siswa agar mereka memperoleh gambaran yang jelas tentang ruang lingkup materi pelajaran yang akan dipelajari.
c.2. Menyarankan langkah-langkah yang akan dilakukan
Pada permulaan atau pada saat-saat tertentu selama penyajian pelajaran siswa akan terarah usahanya dalam mempelajari materi pelajaran jika guru dapat memberi saran-saran tentang langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan.
c.3. Mengingatkan masalah pokok yang akan dibahas
Misalnya mengingatkan siswa untuk menemukan hal-hal untuk dari sufat-sifat tentang suatu konsep, disamping hal-hal positif siswa perlu diingatkan untuk hal-hal negatif.
c.4. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan
Dengan mengajukan pertanyaansebelum memulai menjelaskan materi pelajaran akan mengarahkan siswa dalam mengantisipasi palajaran yang akan dipelajari.
d. Membuat kaitan
Usaha guru untuk membuat kaitan terhadap materi yang akan disampaikan, contohnya yaitu :
d.1. Membuat kaitan aspek yang relevan dari bidang studi yang telah dikenal siswa.
d.2. Guru membandingkan atau mempertimbangkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah diketahui.
d.3. Guru menjelaskan konsepnya atau pengertiannya lebih dahulu sebelum menyajikan bahan secara terperinci.
2. Menutup pelajaran
Menjelang akhir suatu pelajaran atau pada akhir setiap penggal kegiatan guru harus melakukan kegiatan penutup pelajaran agar siswa memperoleh gambaran yang utuh tentang pokok-pokok materi pelajaran. Adapun caranya sebagai berikut:
Ø Meninjau kembali
Ada 2 cara meninjau kembali penguasaan inti pelajaran itu, yaitu:.
a. merangkum inti pelajaran
b. membuat ringkasan.
Ø Mengevaluasi
Salah satu upaya mengetahui apakah siswa sudah memperoleh wawasan yang utuh tentang konsep yang diajarkan selama satu jam pelajaran atau sepenggal kegiatan tertentu adalah kegiatan penilaian. Untuk maksud tersebut guru dapat meminta siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan secara lisan atau mengerjakan tugas-tugas.
  1. Mengelola Kelas
Keterampilan mengelola kelas terbagi dalam 2 jenis keterampilan utama, yaitu :
1. Keterampilan yang behubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal
1. Menunjukkan sikap tanggap
Tingkah laku guru yang tampak kepada siswa bahkan guru sadar serta tanggap terhadap perhatian mereka tidak acuh terhadap kegiatan kelas. Kesan ketanggapan ini dapat ditunjukkan dengan berbagai cara seperti berikut:
a. memandang secara seksama
b. gerak mendekati
c. memberikan pertanyaan
d. memberikan reaksi teradap gangguan dan ketakacuhan siswa.
2. Membagi perhatian
Dapat dilakukan dengan 2 cara:
a. Visual
Dalam hal ini guru mengalihkan pandangannya dari satu kegiatan kepada kegiatan yang lain sedemikian rupa sehingga ia mengadakan suatu kontak pandang yang singkat terhadap sekelompok siswa secara individu. Hal ini menunjukkan perhatian guru terhadap sekelompok siswa atau seseorang siswa tertentu.
b. Verbal
Guru dapat memberi komentar singkat terhadap aktivitas seorang siswa yang dilihatnya atau yang dilaporkan oleh siswa tersebut.
3. Memusatkan perhatian kelompok
Dapat dilakukan dengan cara:
a. Menyiagakan siswa memusatkan perhatian siswa pada suatu tugas dengan menciptakan suatu situasi yang menarik perhatian, sebelum guru menyampaikan topik pelajaran.
b. Menuntut tanggung jawab siswa sehubungan dengan tugasnya dan tanggung jawabnya.
4. Memberikan petunjuk yang jelas
Apa yang disampaikan guru harus jelas dan singkat kepada siswa baik untuk seluruh kelas, kelompok maupun perorangan.
5. Menegur
Teguran verbal guru yang efektif harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a. Tegas dan jelas tertuju pada siswa yang mengganggu serta kepada tingkah lakunya yang harus dhentikan.
b. Menghindari peringatan yang kasar dan menyakitkan / mengandung penghinaan.
c. Menghindari ocehan /ejekan guru, lebih-lebih berkepanjangan.
d. Guru dan siswa dapat membuat aturan-aturan/prosedur tertentu sebagai bagian dari pada kegiatan operasional di kelas untuk disepakati bersama, sehingga teguran akan bersifat mengingatkan.
6. Memberi peringatan
Dalam hal ini guru dapat menggunakan 2 macam cara sebagai berikut:
a. Guru dapat memberikan penguatan kepada siswa yang mengganggu yaitu dengan jalan ”menangkap” siswa tersebut ketika ia sedang melakukan tingkah laku yang wajar yang menunjukkan keterlibatannya dalam tugas dan juga berusaha ”menangkap” pelaku yang tidak wajar kemudian menegurnya.
b. Guru dapat memberikan berbagai komponen penguatan kepada siswa lain yang bertingkah laku wajar . Dengan demikian akan menjadi contoh dan teladan tentang tingkah laku positif bagi siswa yang suka mengganggu.
  1. Keterampilan yang berhubungan dengan pengembalian kondisi belajar yang optimal
Keterampilan ini berkaitan dengan respon guru terhadap gangguan siswa yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal.
H. Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
Ada 6 keterampilan yang harus dimiliki guru, yaitu:
1. Memusatkan perhatian
Selama diskusi berlangsung dari awal sampai akhir guru harus selalu berusaha memusatkan perhatian siswa pada tujuan atau topik diskusi. Tidak tercapainya tujuan dapat disebabkan oleh penyimpangan topik. Cara yang dapat dilakukan :
a. Merumuskan tujuan pada awal diskusi serta mengenalkan topik.
b.Menyatakan masalah-masalah khusus dan menyatakan kembali bila terjadi penyimpangan.
c. Menandai dengan cermat perubahan-perubahan yang tidak relevan yang menyimpang daridiskusi dari tujuannya atau masalah khusus yang sedang dibicarakan apabila hal itu terjadi, guru segera mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang didahului dengan komentar yang memaksa dan mengembalikan siswa untuk mempertimbangkan pengarahan dari pertanyaan hingga diskusi kembali kearah semula.
d.Merangkum hasil pembicaraan pada tahap-tahap tertentu sebelum melanjutkan dengan masalah berikutnya. Rangkuman ini dibuat dengan memanfaatkan gagasan siswa, misalnya;
1.d.1. mengakui gagasan siswa dengan jalan mengulang bagian penting yang diucapkan
1.d.2. memodifikasi gagasan tersebut dengan cara menguraikannya
1.d.3. menggunakan gagasan siswa untuk mencapai kesimpulan
1.d.4. membandingkan gagasan siswa dengan gagasan yang telah diucapkan sebelumnya
1.d.5. merangkum hal-hal yang telah diuraikan siswa baik secara perorangan.
  1. Memperjelas masalah urunan pendapat
Selama diskusi berlangsung, sering terjadi penyampaian ide yang kurang jelas, hingga sukar ditangkap oleh anggota kelompok. Untuk menghindari hal itu, guru haruslah memperjelas penyampaian ide tersebut. Memperjelas dapat dilakukan dengancara:
v Menguraikan kembali atau merangkum urunan tersebut hingga menjadi jelas
v Meminta komentar siswa dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membantu mereka memperjelas ataupun mengembangkan ide tersebut
v Menguraikan gagasan siswa dengan memberikan informasi tambahan atau contoh yang sesuai, hingga kelompok memperoleh pengertian yang lebih jelas.
  1. Menganalisis pandangan siswa
Didalam suatu diskusi sering terjadi perbedaan pendapat diantara anggota kelompok., hingga guru diharapkan mampu menganalisis alasan perbedaan tersebut.
· Meneliti apakah alasan tersebut memang mempunyai dasar yang kuat
· Memperjelas hal-hal yang disepakati dan tidak disepakati
  1. Meningkatkan urunan siswa
Berbagai cara dapat dilakukan untuk meningkatkan urunan pikiran, yaitu:
a. Mengajukan pertanyaan kunci yang menantang siswa untuk berfikir karena pertanyaan tersebut merupakan tantangan bagi ide atau kepercayaan.
b. Memberikan contoh baik verbal maupun nonverbal yang sesuai pada saat yang tepat.
c. Menghangatkan suasana dengan mengajukan pertanyaan yang mengundang perbedaan pendapat.
d. Memberi dukungan terhadap urunan siswa dengan jalan mendengarkan dengan penuh perhatian, memberi komentar yang positif/mimik yang memberikan dorongan serta sikap yang bersahabat.
e. Memberi waktu yang cukup untuk berfikir tanpa diganggu dengan komentar guru.
  1. Menyebarkan kesempatan berpartisipasi
Agar hasil diskusi dapat dikatakan hasil kelompok serta agar setiap anggota kelompok merasa terlibat mendapatkan kepuasan dalam diskusi tersebut kesempatan berpartisipasi perlu sebarkan.
Dengan demikian guru memiliki keterampilan untuk memberikan kesempatan yang sama bagi para siswa dalam berpartisipasi.
Penyebaran kesempatan berpartisipasi ini dapat dilakukan dengan cara-cara berikut:
a. Mencoba memancing urunan siswa yang enggan berpartisipasi dengan mengarahkan pertanyaan secara bijak
b. Mencegah terjadinya pembicaraan yang serentak, dengan memberi giliran pada siswa yang pendiam terlebih dahulu
c. Mencegah secara bijaksana siswa yang suka memonopoli pembicaraan
d. Mendorong siswa untuk mengomentari urunan temannya hingga interaksi antar siswa-siswa dapat ditingkatkan
e. Meminta persetujuan siswa untuk melanjutkan diskusi dengan mengambil salah satu pendapat/jalan tengah yang dianggap sesuai oleh guru, apabila diskusi menemui jalan buntu.
  1. Menutup diskusi
Ketrampilan terakhir yang harus dikuasai guru adalah menutup diskusi.
I. Pengajaran Kelompok Kecil dan Perorangan
Ada 4 komponen ketrampilan yang harus dimiliki oleh guru untuk pengajaran kelompok kecil dan perorangan. Keempat ketrampilan tersebut adalah mengadakan pendekatan secara pribadi, mengorganisasikan, membimbing dan memudahkan belajar, serta merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar-mengajar.
Adapun strategi untuk mencapai keterampilan pengembalian kondisi belajar yang optimal adalah:
1. Modifikasi tingkah laku
Langkah-langkah dalam mengorganisir pendekatan modifikasi tingkah laku:
a. Memerinci secara tepat tingkah laku yangmenimbulkan masalah berupa gangguan, atau tidak terlibat dalam tugas.
b. Memilih suatu norma atau tolak ukur yang realistik untuk tingkah laku yang akan menjadi tujuan dalam program remedial yang akan dilaksanakan.
c. Guru dapat bekerja sama dengan rekan sekerja untuk mengorganisir suatu pengamatan untuk mengukur perubahan dari tingkah laku tersebut.
d. Guru memilih dengan teliti tingka laku yang akan diteliti dan diperbaiki setelah dipertimbangkan untuk mudh diubah.
e. Guru memiliki berbagai cara yang khas dan pola pengaturan yang siap untuk digunakan dalam meningkatkan tingkah laku yang diinginkan.
f. Kegiatan dalam pengajaran perorangan dapat berupa bekerja keras dengan bahan yang siap dipakai dapat belajar sendiri dengan jadwal harian yang disiapkan sendiri.
2. Mengadakan supervisi proses lanjut berupa interaksi guru dan siswa. Inetraksi tersebut dapat berupa:
a. Memberi pelajaran atau bimbingan tambahan kepadasiswa
b. melibatkan diri sebagai peserta dengan hak dan kewajiban sama dengan siswa
c. Memimpin diskusi bila perlu
d. Bertindak sebagai katalisator (penghubung) untuk meningkatkan kemampuan siswa.
3. Mengadakan supervisi perpaduan memusatkan perhatian kepada penilian pencapaian tujuan dari berbagai kegiatan yang dilakukan dalam upaya pemantapan hasil skhir siswa dari kegiatan belajar.
Ada 4 komponen keterampilan yang harus dimiliki oleh guru untuk pengajaran kelompok kecil dan perorangan. Komponen tersebut dapat diuraikan secara rinci sebagai berikut:
A. Keterampilanmengadakan pendekatan secara pribadi
Siswa merasa yakin guru akan siap mendengarkan segala pendapatnya dan akan membantunya. Siswa merasa benar-benar diperhatikan oleh guru. Suasanan dapat diciptakan dengan cara:
1. Menunjukkan kehangatan dan kepekaan terhadap kebutuhan siswa baik dalam kelompok kecil maupun perorangan.
2. Mendengarkan secara simpatik ide-ide yang dikemukakan siswa
3. Memberikan respon positif terhadap buah pikiran siswa.
4. Membangun hubungan saling mempercayai.
5. Menunjukkan kesiapan untuk membantu siswa tanpa kecenderungan untuk mendominasi ataupun mengambil alih tugas siswa.
6. Menerima perasaan siswa dengan penuh pengertian dan keterbukaan.
7. Berusaha mengendalikan situasi.
B. Keterampilan mengorganisasi
Dalam hal ini guru memerlukan keterampilan ntuk melakukan hal-hal berikut:
1. Memberikan orientasi umum, tentang tujuan tugas atau masalah yang akan dipecahkan sebelum kelompok mengerjakan berbagai kegiatan yang telah ditetapkan.
2. Memvariasikan kegiatan
3. Membentuk kelompok yang tepat
4. Mengkoordinasikan kegiatan
5. Membagi-bagikan perhatian
6. Mengakhiri kegiatan.
C. Keterampilan membimbing dan memudahkan pelajaran
Keterampilan ini memungkinkan guru membantu siswa untuk maju tanpa mengalami frustasi. Hal ini dapat dicapai bila guru memiliki keterampilan berikut:
1. Memberikan penguatan yang sesuai dalam bentuk kuantitas dankualitas. Karena pada dasarnya penguatan merupakan dorongan yang penting bagi siswa.
2. Mengembangkan supervisi proses awal yaitu yang mencakup sikap tanggap guru terhadap siswa secara perorangan maupun keseluruhan yang memungkinkan guru melihat atau mengetahui apakah segalanya berjalan dengan baik.
D. Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar
Keterampilan ini mencakup hal-hal yang berhubungan dengan kurikulum terutama pengembangannya. Kegiatan belajar mengajar ini mencakup:
1. Membantu siswa menetapkan tujan pelajaran yang dapat dilakukan dengan diskusi atau menyediakan bahan-bahan yang menarik yang mampu menstimulasi siswa untuk mencapai tujuan tertentu.
2. Merencanakan kegiatan belajar bersama siswa yang mencakup kriteria keberhasilan, langkah-langkah kerja, waktu serta kondsi belajar.
3. Bertindak/berperan sebagai penasehat bagi siswa bila diperlukan. Hal ini dapat dilakukan dengan berinteraksi aktif.
4. Membantu siswa menilai pencapaian dan kemajuannya sendiri. Hal ini berbeda dari cara penialaian tradisional yang pada umumnya dilakukan guru sendiri. Membantu siswa menilai diri sendiri berarti memberi kesempatan kepada siswa untuk memperbaikinya, sekaligus pencerminan kerjasama guru dalam situasi pendidikan yang manusiawi.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
· Komponen keterampilan bertanya dasar meliputi:
a. Pengungkapan pertanyaan secara jelas dan singkat.
b. Pemberian acuan.
c. Pemusatan.
d. Pemindahan giliran.
e. Penyebaran.
f. Pemberian.
g. Pemberian tuntunan.
· Komponen-komponen keterampilan bertanya lanjut meliputi:
a. Pengubahan tuntunan tingkat kognitif dalam menjawab pertanyaan.
b. Pengaturan urutan pertanyaan.
c. Menggunakan pertanyaan pelacak.
· Komponen-komponen penguatan meliputi:
a. Penguatan verbal.
b. Penguatan non verbal.
· Komponen-komponen keterampilan mengadakan variasi meliputi:
a. Variasi dalam gaya menghafal guru.
b. Variasi dalam penguatan media dan bahan pengajaran.
· Komponen keterampilan menjelaskan meliputi:
a. Merencanakan.
b. Menyajikan suatu penjelasan.
c. Pemberian tekanan.
d. Balikan.
· Komponen-komponen keterampilan membuka dan menutup pertanyaan meliputi:
  1. Membuka pelajaran : menimbulkan motivasi; memberi acuan; membuat kaitan.
  2. Menutup pelajaran : meninjau kembali; mengevaluasi.
· Komponen ketrampilan meliputi:
  1. Menunjukkan sikap tanggap.
  2. Membagi perhatian.
  3. Memusatkan perhatian kelompok.
  4. Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas.
  5. Menegur.
DAFTAR PUSTAKA
Joni, T. Raka. 1984. Keterampilan Bertanya Dasar dan Lanjut. Jakarta: Depdikbud.
Joni, T. Raka. 1984. Keterampilan Memberi Penguatan. Jakarta: Depdikbud.
Joni, T. Raka. 1984. Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran. Jakarta: Depdikbud.
Joni, T. Raka. 1984. Keterampilan Memimpin Diskusi Kelompok Kecil. Jakarta: Depdikbud.
Joni, T. Raka. 1984. Keterampilan Mengadakan Variasi. Jakarta: Depdikbud.
Joni, T. Raka. 1984. Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan. Jakarta: Depdikbud.
Joni, T. Raka. 1984. Keterampilan Mengelola Kelas. Jakarta: Depdikbud.
Joni, T. Raka. 1984. Keterampilan Menjelaskan. Jakarta: Depdikbud.
Rohani, Ahmad. 1991. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rangka Cipta.

3 comments:

  1. Pak apa beda antara micro teaching dengan peer teaching?

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Micro teaching adalah suatu kegiatan mengajar yang dilakukan dengan cara menyederhanakan atau segalanya dikecilkan. Maka, dengan memperkecil jumlah murid, waktu, bahan mengajar dan membatasi keterampilan mengajar tertentu, akan dapat diidentifikasi berbagai keunggulan dan kelemahan pada diri calon guru secara akurat.

    sedangkan peer teaching adalah latihan mengajar yang dilakukan seorang mahasiswa dimana dia bertindak seolah-olah sebagai guru dan teman sekelasnya seolah-olah sebagai murid suatu sekolah tertentu. Peer teaching ini banyak dipraktekan siswa atau mahasiswa di sekolah calon guru, untuk meningkatkan keterampilan mengajarnya, sebelum mengajar siswa yang sebenarnya pada saat praktek

    ReplyDelete